Tere Liye dan Ketika Aku SMP
Menulis ulang tulisan Darwis Tere Liye di page facebook miliknya sebagai berikut.
Hal-hal ‘ajaib’ dari orang-orang yang tidak bisa mengendalikan perasaan itu misalnya (daftarnya semakin panjang setelah lama tidak dijenguk):
1. Sibuk ngisi quiz apakah dia suka padaku. Mulai dari yang simpel seperti mencocokkan nama, coret-coret huruf yang sama, berapa sisanya, hingga yang canggih, alat menghitung kecocokan di internet, masukkan nama sendiri dan nama yang ditaksir, enter, hasilnya keluar. Tertawa riang kalau kesimpulannya bagus, dan nyengir kecewa kalau kesimpulannya jelek. Ajaib sekali, padahal jelas-jelas apa gunanya pula kalau kesimpulannya jodoh banget.
3. Berharap ketemu di manalah sama yg ditaksir, sudah dandan keren, kecewa berat saat nggak ketemu, tapi pas benaran ketemu malah melipir macam layangan putus, tidak berani bilang hai sepotong kata. Ajaib kan, padahal yg ditaksir itu boleh jd melihat juga nggak. Senang ngelihat genteng rumahnya, sumringah melihat jendela kelasnya, bolak-balik kayak setrikaan nyari perhatian, ck, ck.
4. Menyimpan replay sms dari yg ditaksir, screenshoot reply komen, dll, padahal isi sms itu cuma: ‘siapa sih ini?’
5. Menulis cerita tentang dia, cerpen tentang dia, diary tentang dia, berharap dia membaca tulisan tersebut. bahkan mengkhayal, mimpi pun tentang dia, nonton film cinta-cintaan serasa nonton dia dan aku, baca buku roman serasa baca tentang dia dan aku. Lupa, kalau di dunia ini ada 7 milyar orang, cuma dia saja di kepala. Bahkan, saking fokusnya mikir dia, tiba-tiba ada sms atau replay komen, sudah jingkrak-jingkrak senang, ternyata salah lihat, bukan dari dia. duuh..
6. Tiba-tiba menjadi penghafal sejati. Hafal dia besok berangkat jam berapa, dia lewat jalan mana saja, dia sukanya apa saja. Dan bergegas menyesuaikan jadwal agar sempat berpapasan. Sok tidak sengaja bertemu. Benar-benar penghafal sejati, hafal bajunya, hafal gayanya. Coba kalau belajar matematika persis kayak gini prosesnya, pasti jenius semua loh orang-orang. Tiba-tiba jadi detektif nomer satu, semua diselidiki. atau wartawan kelas wahid, semua diinterviu.
7. Pas tahu dia ternyata nggak naksir, atau kecewa dgn perasaan sendiri, memutuskan melupakan, mulai deh menghapus nomor HP-nya, emailnya, remove fb, dan sebagainya. padahal hiks, nomor HP-nya sudah hafal mati, emailnya juga sudah hafal banget. Mau dilupakan gimana? lantas bilang ke semua orang ‘sudah biasa, kok, sudah nggak kenapa-kenapa lagi’ hiks, hiks.
8. Kalau sudah jadian, berasa sudah menikah seratus tahun saja, majang status sayang setiap hari, ganti nama profile facebook: ‘aku cayaaang xxxx’, majang foto mesra, makai nama dia jadi second name, aduh, padahal ternyata hitungan bulan juga sudah putus. Lantas mau diapain itu foto-foto lama? statu-status2 lama?
Daftarnya akan terus panjang seperti kereta api. Kalian tahu, 20 tahun dari sekarang, kalian akan tertawa melihat betapa lucunya masa-masa itu. Nah, jika masa-masa ini terlanjur keliru, ssstt, ada yg tertawanya sambil menyesal, entah buat apa penyesalan itu.
Masa remaja, masa sekolah, dan kuliah adalah masa keemasan milik kalian, pastikan jangan sia-siakan untuk hal-hal yang cepat atau lambat akan datang sendiri. Lebih baik gunakan untuk terus belajar memperbaiki diri, menyiapkan masa depan gemilang, dan kalian akan tertawa lurus, bahagia mengenang masa-masa muda itu.
Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat sepanjang kalian memiliki sesuatu. Apa sesuatu itu? Tentu saja bukan GPS, alat pelacak, peta, satelit, dan sebagainya, sesuatu itu adalah pemahaman yang baik bagaimana menjaga kehormatan perasaan dengan tidak melanggar nilai2 agama.–Tere Liye, separuh quote dari novel ‘Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah’.
“Kau tahu, hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat.”–Tere Liye, novel ‘Eliana’